loading...
NationalOpinion

Merajut Moderasi di Era Disrupsi: Melawan Wacana-Wacana Radikal

Tunggu...

Radikalisme dan fundametalisme agama nampaknya semakin unjuk gigi. menurut Solahudin, peneliti dari Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, media sosial semakin mempercepat tersebarnya paham radikal. Maka tidak mengherenkan jika wacana-wacana anti-kebhinekaan bertebaran di beranda Facebook sampai grup Whatsapp keluarga.

            Tersebarnya ajaran-ajaran seperti itu sangat berpotensi untuk mempengaruhi pola pikir dan cara pandang masyarakat ke arah yang negatif. Bentuknya dapat berupa intoleransi, ekslusivisme, bahkan yang lebih mengancam adalah anti-nasionalisme sampai terorisme. Pemicunya adalah sebaran wacana-wacana radikal, yang tak lain tak bukan, salah satunya, berasal dari media sosial. Mengapa demikian?

            Media sosial adalah dunia kedua bagi masyarakat. Di media sosial orang-orang bisa berinteraksi satu sama lain bahkan dengan menggunakan identitas anonim maupun ganda. Kita bisa menjadi orang lain di dunia maya. Hal ini menyebabkan disorientasi. Pemahaman kita pada kenyataan menjadi terganggu. Sehingga kesadaran kita malah mencampur-adukkan dunia nyata dan dunia maya.

            Hal ini menimbulkan apa yang disebut sebagai disrupsi. Menurut KBBI, disrupsi adalah tercerabut dari akarnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan teknologi informasi, disrupsi bisa diartikan sebagai tergesernya kehidupan masyarakat dari dunia nyata ke dunia maya.

Disrupsi membuat orang-orang lebih mudah terpapar paham radikal. Alasannya, radikalisme pada dasarnya muncul karena ketidakpuasan melihat realitas yang ada. Kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan sosial adalah salah satu penyebabnya. Karena disrupsi meningkat, maka, orang cenderung untuk membaca problem yang ada tidak dengan solusi yang ‘realistis’. Contoh: naiknya harga-harga barang tidak dipahami sebagai akibat dari kekurangan supply, tetapi ia dipahami secara emosional, misalnya dengan pemahaman: “harga barang naik karena Cina berkuasa di Indonesia”. Dengan disrupsi, kenaikan harga barang malah menimbulkan antagonisme atas ras, bukannya melakukan kritik ekonomi.  

Radikalisme agama juga berkaitan erat dengan disrupsi saat ini. Karena disrupsi membuat orientasi akan realitas menjadi campur aduk, maka orang-orang menjadi cenderung menilai dan menimbang sesuatu secara emosional. Pertimbangan secara emosional tanpa dibarengi dengan rasionalitas membuat orang lebih senang dengan hal-hal yang ‘instan’. Begitu pun juga dengan sebaran agama yang ada di media sosial. Orang-orang cenderung menyukai konten-konten agama yang sederhana. Tidak semua konten agama bernilai positif, khususnya dalam konteks ke-Indonesiaan. Kadang ketika Indonesia bermasalah, karena kemiskinan dan sebagainya, orang-orang dengan paham radikal malah berpandangan bahwa masalah itu diakibatkan oleh sistem thogut, atau dengan kata lain, Indonesia sampai kapanpun pasti selalu bermasalah karena tidak menggunakan sistem yang ada di dalam Alquran. Dan oleh karena itu Indonesia mesti menjalankan syariat Islam yang kaffah agar masyarakat sejahtera.

Paham seperti itu hadir karena masalah yang ada di dalam kenyataan dibaca dengan kacamata idealistik yang berasal dari media sosial. Padahal jika kita lihat secara seksama, pendapat tersebut kurang tepat. Ia kurang cermat dalam melihat konteks ke-Indonesiaan. Padahal Indonesia secara konstitusional sangat islami karena substansi ke-Islaman sudah terkandung di dalam Pancasila dan UUD 1945. Tetapi orang-orang yang terdisrupsi tidak dapat memahaminya sampai sana, karena Islam yang ada di kepala mereka hanyalah cangkangnya saja. justru masalah-masalah yang kita hadapi sebagai bangsa mesti dihadapi bersama,  karena kebersamaan merupakan nilai Islami, bukannya malah mencari alternatif yang berpotensi untuk merusak kebhinekaan.

Jika terus dibiarkan menyebar, bukan tidak mungkin jika radikalisme menjadi wacana yang sangat hegemonik. Tentunya ini ancaman bagi Indonesia. Maka untuk meng-counter hegemoni tersebut, diperlukan wacana-wacana moderat untuk timbul ke permukaan. Wacana moderat yang terkandung di dalam Ahlussunnah wal Jamaah adalah wacana yang cocok untuk melawan hegemoni radikalisme. Pasalnya moderasi Islam sangatlah sesuai dengan kondisi Nusantara.

Moderasi membuat orang mampu untuk menilai sesuatu secara bijak. Inti dari moderasi adalah selalu menunda setiap prasangka yang ada, dan mampu untuk menilai segala sesuatu dari berbagai aspek. Moderasi memahami Islam dalam konteks ke-Indonesian secara substansial. Salah satu aplikasi konkritnya adalah dengan menjunjung toleransi setinggi-tingginya. Konsep bagimu agamamu dan bagiku agamaku adalah nilai Islam yang sangat sesuai dengan realitas Nusantara. Ini hanyalah salah satu konsep yang bernilai kaya, dan masih banyak lagi nilai-nilai yang bisa kita gali dari Islam jika kita bisa membacanya secara moderat.

Dengan moderasi yang substansial, bangsa akan dilihat sebagai satu kesatuan. Jika ada masalah maka akan diselesaikan bersama dengan nilai-nilai Islam, bukan dengan emosi dan juga egoisme kelompok. Oleh karena itu maka nilai-nilai moderat mestilah menjadi wacana yang hegemonik di tengah hiruk-pikuk disrupsi media sosial.

Tentunya usaha tersebut memerlukan agen-agen cemerlang yang bersedia untuk terus menyebarkan nilai-nilai moderat berdasarkan ahlusunnah wal jamaah, di manapun itu, baik di dunia nyata maupun maya. Salah satunya adalah dengan Nahdhlatul Wathan. Dengan santri-santrinya, semoga dapat menjadi agen yang terus mendakwahkan nilai-nilai moderasi, agar dapat menjaga kesatuan bangsa ini dari segala penyakit disrupsi.
Sc. https://www.nwonline.or.id

Oleh : Muhammad Satria Abdul Karim

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close