Opinion

Revolusi Mental di Era Digital

Revolusi Mental – Pendidikan adalah sebuah naturalisasi. Reformasi ketidakpastian menjadi nyata, revitalisasi keburukan menjadi fakta dan manuver pasti wujudkan ambisi berprestasi, tidak hanya intlektualisme tetapi juga berkolaborasi lahirkan spiritualisme. Tidak heran jika seorang ilmuan Barat yang bernama Albert Einstein mengungkapkan isi hatinya dengan variasi puisi indah, “Sciene without religion is lame, religion without science is blind” yang artinya; Pendidikan tanpa agama adalah pincang, agama tanpa pendidikan adalah buta.
Naturalisasi atau pergantian status karaktristik privasi setiap manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang menjadi aktualisasi ikhtiarnya meraih pengetahuan, bahkan itu menjadi faktor terhebat.
Persepsi sebagian besar orang, bahwa pendidikan hanya akan melahirkan intlektualitas atau kecerdasan yang terencana, namun banyak pula yang lupa bahwa memvonis kepintaran tidak lah cukup dengan sebuah pengetahuan yang melahirkan pola pikir (intlektual). Akan tetapi, lebih central pendidikan menciptakan sisi batiniah yang melebur keangkuhan menjadi kesederhanaan, bahkan jauh lebih bijak dari itu.
Lalu, apa yang menjadi kepastian lahirnya dua komitmen Tuhan tentang otak dan hati, yang tentu hubungannya sangatlah erat dengan dua perhelatan spektakuler, diantara janji setiap usaha yang terlahir atas dasar pendidikan dan pilsafat ideologi?
Religion yang dimaksudkan Albert Einstein, tidak sebatas pada pengetahuan yang berdasarkan ideologi keimanan setiap manusia, tapi perlu kiranya kita memahami konsep dasar pendidikan bahwa ketika pribadi seseorang yang terpatri dengan kelembutan, kebijaksanaan dan diselimuti dengan kesantunan, itu adalah ciri khas karakter yang lahir atas dasar pendidikan.
Oleh karenanya, setiap pelaku pendidikan mesti menyadari, betapa pendidikan tidak diperuntukkan kepada mereka yang ingin menjadi orang sukses, baik secara finansial atau karir. Tetapi juga, pendidikan secara utuh dipersembahkan bagi mereka yang secara fitrah menginginkan kebaikan, kebijaksanaan, kelembutan, kaikhlasan, ketulusan, keberanian, kesungguhan, serta keseriusan membangun generasi dan episode kehidupan yang lebih layak untuk ditopang menjadi kehidupan anak bangsa serta tanah air yang madani.
Era globalisasi telah menuntut setiap pelaku pendidikan untuk lebih kreatif membangun media yang mampu memanipulasi setiap propaganda aplikasi sistem tatanan pendidikan, sehingga setiap generasi berikutnya melakukan hal yang sama. Namun yang perlu menjadi wasiat dan doktrinisasi pendidikan adalah mesti dan harus mengikhtiarkan lahirnya pribadi-pribadi yang mampu melahirkan konsep tidak hanya mengedepankan pada intlektualisme atau kecerdasan saja, tetapi juga melahirkan spiritualisme atau ideologi batiniah, sehingga bangsa ini semakin hari akan terus melahirkan orang-orang yang bijak dan bertanggungjawab.
Dunia digital sekarang ini, banyak menyuguhkan kita asumsi-asumsi yang terkadang kita sendiri adalah bagian dari mereka yang merasa bertanggungjawab dan memiliki kewajiban menanamkan benih-benih ketulusan dan kesungguhan bagi mereka yang benar-benar mengejar mimpi dan masadepan. Namun, tidak sedikit kita saksikan malaikat-malaikat (guru) utusan Tuhan yang berilmu itu justru menjadi pelaku yang merusak masadepan para pemimpi (peserta didik) itu.
Pernah tercetus wacana tentang solusi fenomena rusaknya pergaulan dan karakter anak bangsa ini dengan menambah jam “Mata Pelajaran Agama” disetiap sekolah dalam sepekan. Namun, berpikirlah seribu kali untuk mencari solusi yang jauh lebih indah dari itu.
Disatu sisi, Indonesia secara umum dan Nusa Tenggara Barat secara khusus menginginkan perkembangan moderenisasi pendidikan baik teknologi atau sains menjadi target sebagai media yang diperuntukkan untuk mengundang sejuta prestasi yang kemudian itu akan memberikan kontribusi hebat yang mengharumkan nama baik bangsa dan daerah. Namun, lupa akan hakekat hakiki prestasi pendidikan gemilang yang akan melahirkan orang-orang yang benci narkoba, memalingkan muka dari pergaulan bebas dan muak memandang tawuran.
Sering pula, wacana tentang kesejahteraan (kenaikan gaji) para pendidik yang bergelar “Pahlawan Tanpa Jasa” itu, dijadikan sebagai wahana evaluasi dan sistem meningkatkan great pendidikan yang tentu mengundang tawa dan kebahagiaan meski pemerintah tidak pernah melirik keseriusan dan kapasitas mereka menjalankan tugas dan tanggungjawab serta kewajiban dengan maksimal.
Mari, merenung dan memandang sejenak, tentang apa yang terlupa oleh kita, oleh pemerintah, dan oleh bangsa ini. Mungkin kasat mata dan pikir kita tak terlampaukan, tapi mesti kita tahu, bahwa tangan Tuhan tak terabaikan meski ikhtiar dan doa adalah bagian dari king of power.
Bukankah Muhammad bin Abdullah shallallahu‘alaihiwasallam Tuhan utus sebagai uswah-hasanah dan beliau adalah seorang pendidik?
Pendidik secara konsepsual adalah seorang pigur, contoh tauladan yang baik. Maka sudah jelas sebelum tanggungjawab menyiram bunga (mengajar siswa) diaktualisasikan, kewajiban nomor satu sebelum itu adalah berusaha memiliki dan menjadi pribadi yang baik dan berwibawa. Tentu bisa ditauladani oleh mereka yang ternaung oleh tutur-tutur yang agung.

Revolusi Mental di Era Digital


Guru tauladan adalah mereka yang tentu dengan ketulusan hati bahagia melihat anak didiknya sukses dan tidak sama sekali menginginkan mereka terjerumus dalam hempasan palsu masadepan. Dikatakan bahwa, pigur senantiasa melakukan dan menunjukkan kepada setiap anak didiknya prilaku dan tutur kata yang santun dengan betul-betul menjaga jarak dan diri dari hal-hal yang bersangkutan dengan mereka.
Dengan demikian, kita bisa mengkaji tentang dua konsekuensi kearifan edukasi antara intelektual dan spiritual yang kemudian jika di aktualisasikan dan sekaligus dikolaborasikan menjadi satu kesatuan hakiki, maka akan bisa diyakini lahirnya budaya kualitas, tidak hanya pada apa yang disampaikan tetapi juga pada siapa yang menerima semua teori dan konsep itu, sehingga terciptalah revolusi mental dengan realisasi pendidikan karakter.

Baca Juga: Tuan Guru Bajang Sebut Maulanasyaikh Tinggalkan Ladang Ibadah


Pertama, Masyarakat secara umum, mengenal intelektual sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun untuk memecahkan problem yang dihadapi. Gambaran tentang sosok yang berintelektual tinggi adalah lukisan mengenai dia yang pintar. Jika itu terjadi di lingkungan pendidikan, maka doktrinisasi yang muncul adalah mereka yang selalu naik kelas, meperoleh nilai baik, atau mereka yang jempolan di kelasnya yang biasa disebut bintang kelas.
David Wechsler (dalam Saifuddin Azwar, 1996) mendefinisikan intelektual sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara efektif.
Jadi, bisa dirangkum dalam satu wawasan central bahwa intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi, berpikir abstrak, menalar, serta bertindak secara efisien dan efektif.
Dari suguhan definisi dan nalar di atas, bisa di tafsirkan tentang banyak kemungkinan yang memberikan peluang kepada semua orang untuk menentukan pilihan terbaik dan memberikan yang terbaik pula kepada orang lain secara luas yang tentu tidak dimengerti olehnya, sekaligus memancing penalaran mereka yang menerima persepsi itu untuk lebih kreatif serta menyertakan karakteristik privasinya untuk bertindak tepat.
Intlektual hanya mengembankan pada sisi keilmuan yang mengedepankan pada sisi kreatifitas, entah berpikir, bertindak atau berbicara. Tidak heran jika mereka yang kita kenal cerdas dan pintar memiliki gaya bicara yang tidak sama produktif dan kualitasnya dengan orang lain.
Intlektual yang dimiliki seorang pendidik tentu sangat berpengaruh terhadap motivasi dan gaya berpikir siswa, itulah kenapa disetiap sekolah berkualitas pasti ada orang-orang intlek yang hadir di dalamnya.
Kedua, Spiritual adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu (Burkhardt 1993).


Spiritual juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal yang terekam oleh batin, sehingga apapun jenis tindakan yang akan diaplikasikan oleh seseorang yang memiliki spiritualisme pasti terukur, terencana dan tentu sangat rapi dan berwibawa karena spiritual lebih membawa seseorang kepada rasa malu jika melakukan hal yang tidak layak untuknya.
Intlektual dominan akan mengekspresikan sisi kreatifitas yang pasti menghidupkan suasana dan menggairahkan, sedang spiritual lebih menghadirkan sisi piguritas yang tidak diragukan lagi akan menyuguhkan motivasi dan pribadi yang luhur. Jika keduanya bersinergi menjadi satu aplikasi pasti, maka piguritas dan motivasi serta kreatifitas akan terformat menjadi satu karakter yang harus dan bisa diimani menjadi uswah yang agung.
Piguritas sangat sensitif bagi mereka yang disebut anak bangsa (siswa). Piguritas hanya terpatri dari pribadi-pribadi yang baik dan bersahaja. Jika seorang pendidik memiliki pribadi yang baik maka tentu orang-orang yang dididik akan merespon positif tidak hanya pada sikap tapi juga pada sisi batinnya.
Tidak mungkin seorang guru akan menjadi seorang pendidik jika mereka bukan bagian dari orang-orang yang memiliki intlektual tinggi, akan tetapi mengapa di negeri ini masih banyak mereka yang merusak masa depan anak didiknya?. Ini merupakan bukti bahwa intlektual tidak cukup sebagai syarat menjadi seorang pendidik.
Di media masa kita bisa saksikan, kabar-kabar tentang banyaknya guru dan murid melanggar etika dan norma Tuhan. Lalu pertanyaannya adalah, kenapa semua itu bisa terjadi?.
Fenomena ini menunjukkan kita bahwa spiritual sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang pendidik. Moral adalah tahta tertinggi yang dihadiahkan oleh spiritual. Jika sisi spiritual dimiliki, maka moral akan menjadi pilihan utama untuk tetap mengemban misi mencerdaskan anak bangsa dan bukan merusak langkah perjuangan mereka.
Bukti selanjutnya, betapa sensitifnya figuritas di sisi pelajar.
Contoh; Seorang guru perempuan yang memiliki kecerdasan luar biasa tetapi sisi moralnya masih nol besar. Ketika mengajar, dia mengenakan pakaian yang siapapun memandangnya pasti memikat (red; seksi), lalu hal ini terbawa sampai di hadapan mereka yang akan diberikan contoh, maka tentu pada sisi karakteristik, secara berlahan akan merusak mental dan moral. Lalu dimanakah buah keberkahan akan dipetik?, semua kembali kepada diri mereka yang akrab dengan panggilan guru itu dan peran pemerintah untuk membantu mereka menyadari tanggungjawab dan kewajiban yang hakiki.
Tidak ada kata lain untuk solusi fenomena ini selain kesadaran yang tinggi dan ditopang dengan perundang-undangan yang ril tentang kriteria seorang pendidik. Lalu tidaklah salah, jika mengikhtiarkan pembentukan karakter guru yang baik sejak fase pra pendidik atau pada saat kuliah dengan memberikan pendidikan atau mata kuliah yang berkaitan dengan pembentukan karakter dengan mengedepankan psikologi dan mendominasi pada sisi batiniah sehingga sebelum menjadi seorang pendidik, para calon pendidik ini sudah mempersiapkn sejak dini diri dan karakter serta misi pasti wujudkan pendidikan yang suci dan bermartabat.


Oleh : Husnul Haetamy, QH., S.Sos .

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close